Tulisan Indah Itu Hanya Peristiwa, Cara Kamu Menulislah Yang Hebat.

Tampilkan postingan dengan label Telaah Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Telaah Sosial. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2015

Menyoal "Kemerdekaan" di 17 Agustus 2015

with 0 Comment
Sudah ke 70 tahun perayaan kemerdekaan bangsa Indonesia selalu dirayakan. Bukan kenapa, karena bangsa yang besar akan selalu mengingat perjuangan para pendahulunya, pahlawan. Namun bulan agustus tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Agustus tahun 2015 ini disambangi beberapa peristiwa yang cukup menarik perhatian khalayak umum. Mulai dari dua organisasi Islam terbesar di negeri ini yang melakukan Muktamar, pelambanan ekonomi, hingga menilik kemerdekaan hari ini.

Kemerdekaan Indonesia sejatinya lebih awal dari kemerdekaan beberapa negara tetangga, seperti Singapura, malaysia, dan brunai darussalam. Tapi kalau melihat kondisi sosial secara ekonomi Indonesia masih dibawah negara tetangga tersebut. Entah apa sebenarnya yang terjadi, karena saya memang bukan pakar di bidang ekonomi juga politik karena pengetahuanku pada keduanya masih sangat kurang. Kenapa harus ekonomi dan politik? karena pada keduanya bagi saya bangsa bergantung pada gilirannya berimbas pada sosial juga pendidikan. Namun pada kali ini saya hanya mencoba melihat makna "Kemerdekaan" bangsa ini sejauh yang saya mampu.

Pada awal bulan ini yang menarik perhatian saya adalah muktamar dua organisasi Islam di negeri ini, NU dan Muhammadiyah. Pada muktamar kali ini, keduanya mengusung tema yang saling mendukung satu sama lain, mereka kompak untuk menjadi organisasi yang akan memperjuangkan bangsa yang maju, cerah, beradab dan progresif.

Dua organisasi ini kebetulan sama-sama memberikan fatwa yang menarik bagi pelaku korupsi. NU mengusungkan sepakat setelah melalui bahtsul masa'il terkait hukuman mati bagi koruptor, pun selain pembunuhan, produsen, pemasok, dan pengedar narkoba. Sedang Muhammadiyah mengusungkan pelarangan sholat jenazah terhadap pelaku korupsi / koruptor. Hingga tadi malam dua fatwa yang usung oleh organisasi tersebut di layar televisi. Tentu fatwa tersebut akan ada dampak positifnya yang juga bisa terjadi kontroversial. Terutama bagi aktivis HAM.

Kondisi lain terkait pelambanan ekonomi Indonesia hingga pelemahan nilai ekonomi, terlihat dari nilai tukar mata uang rupiah yang bisa dibilang sudah tak ada harganya. Belum lagi dengan persoalan pelik lainnya bangsa ini.

Entah harus bagaimana, saya sebagai rakyat yang belum bisa memberikan sumbangsih apa-apa pada bangsaku ini terhenyak karena di kemerdekaan bangsa yang sudah berumur 70 tahun ini, bangsa ini masih jauh dari impian kemerdekaan yang dulu di impikan oleh para pahlawan.

Akhir kata, meski permasalahan negeri ini beigtu komplit, namun bangsa ini masih bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi. Akan tetapi jika melihat negeri tetangga kita harus malu, malu karena kita belum merdeka secara ekonomi, belum merdeka secara politik, belum merdeka secara pendidikan. Kita harus "SADAR" dan "PEDULI" untuk lebih berjuang lagi baik secara mikro maupun makro. Pribadi juga kelompok. Wallahua'lam


Jumat, 14 Agustus 2015

Tak Jauh Beda Tanpa Pemerintahan

with 0 Comment
Desaku ini -ganjaran- kalau dilihat SDM tidak kalah dengan desa-desa yang lain. Desa yang kaya pendidikan, mulai dari banyaknya pesantren hingga banyaknya sekolah-sekolah yang ada. Konon sebagian pesantren-pesantren di desaku ini ada sejak sebelum pemerintahan. Hal itu berarti bahwa proses memerdekaan manusia dari kebodohan sudah diusahakan oleh masyayikh desa ini.

Dulu saya juga pernah diceritakan oleh paman. Dulu desa Ganjaran ini sempat dijadikan kiblat kajian keagamaan di wilayah Malang selatan, sebagai referensi pendapat keagamaan ketika disuatu daerah terdapat masalah terkait syariat, tutur beliau. Dari cerita beliau, saya bangga lahir didesa pesantren ini.

Namun seiring bergelindingnya zaman yang begitu cepat. Terkadang terasa risau melihat kondisi sosial sekarang. Masih kuat ingatanku, ketika dulu aku masih kecil hingga berumur 13 tahunan masih belum pernah melihat anak desa yang berlenggang memperlihatkan auratnya sedemikian vulgar. Namun kini, melihat aurat yang vulgar sudah bukan hal tabu. Negeri ini sudah mengalami krisis moral.

Dan ada hal lain yang bagi saya perkembangannya sangat lamban untuk negeri yang sudah merdeka 70 tahun ini. Yaitu pelayanan masyarakat. Yang saya tau dari periode ke periode dari pergantian Kepala Desa di desaku ini, tak banyak memberikan pengaruh. Seakan pergantian periode ke periode tak ada artinya. Dimulai dari perangkat desa yang sepertinya bukan bidang profesional mereka, hingga Kepada Desa. Yang saya tahu visi dan misi periode mereka begitu mulia nan bagus apabila benar-benar terealisasi. Namun nyatanya sebagian kecil yang terealisasi. Dari periode ke periode yang dirasakan hanya terkait perbaikan jalan. Soal perkembangan ekonomi, pendidikan, juga sosial desa sepertinya tak banyak berpengaruh.

Demi berkembangnya pelayanan masyarakat, seyogyanya ada transparansi terkait program kerja desa juga pendapatan desa. Sehingga masyarakat tahu apa yang mereka lakukan, mereka yang oleh rakyat desa ini percaya. Mereka yang diberikan amanah. Mereka yang menjadi wakil rakyat desa.
Pergantian kepada desa belumlah terlalu lama, namun lagi-lagi yang terlihat perkembangannya dari pembangunan desa hanya perbaikan jalan. Ku lihat petani-petani desa ini tak ada yang berhasil karena campur tangan dari desa. Seakan pemilihan kepada desa yang dilakukan 5 tahun sekali itu hanya agenda rutinan yang tak begitu berdampak bagi para pemilihnya. Atau semua ini hanya anggapan saya saja yang tak sesuai realita. Wallahu a'lam

“ Istilah korupsi, suap, pembobolan, mark up, catut, artinya sama. Tidak jujur. Artinya sama, tidak menuju ke keadilan sosial. Artinya, merampas nyawa kehidupan lain”. Arswendo Atmowiloto




Sumber : gambar dari Lensaindonesia.com

Senin, 08 Juni 2015

Antara Media, Domba Hitam Dan Domba Putih

with 1 comment
Dalam setiap kehidupan, tentu ada komunitas, baik itu komunitas yang putih maupun hitam. Dalam segerombolan domba juga begitu. Dalam hal ini saya ingin membahas antara Media, Domba hitam (muslam ekstrem) dan Domba putih (Mayoritas Muslim).
Ada banyak pertanyaan yang ditujukan terhadap kaum muslim terkait kejadian-kejadian teror diberbagai tempat di dunia, yang mereka "tuduhkan" terhadap umat muslim tetapi menafikan teror-teror lain yang lebih kejam sehingga menjadikan umat muslim sebagai kambing hitam.

Salah satunya, kalau memang dalam Islam melarang membunuh sesama manusia yang tak bersalah, bagaimana kejadian yang di Timur Tengah?

Kenapa umat muslim tidak secara terbuka mengkritik dan mengkutuk kejadian yang ada di Timur Tengah? Dan banyakpertanyaan lain.

Dalam kaitannya dengan istilah teroris yang seringkali ditujukan terhadap umat muslim, hal ini sangat erat kaitannya dengan media. Kenapa media? Karena media lah awalnya melakukan mengambing hitamkan kaum muslim. Media menyebarkan berita "ada sekelompok domba hitam" namun mereka menggambarkan seakan-akan seluruh seluruh domba hitam. Dunia disuguhkan berita yang seakan-akan umat muslim "seluruhnya" adalah domba hitam.

Padahal sudah jelas, dalam al-Quran surat al-Maidah:32, bahwa dilarang membunuh seseorang yang tidak berhak dibunuh, yang tidak melakukan kerusakan, apabila seseorang itu membunuh maka dia seakan-akan membunuh seluruh umat manusia. Hal ini sudah sangat jelas bahwa dalam ajaran Islam sangat melarang pembunuhan, membunuh seseorang dimanapun yang tidak bersalah adalah dosa. Bahkan dalam Islam membunuh adalah dosa terbesar kedua setelah syirik.

Banyak kalangan umat muslim mengkritik juga mengutuk kejadian yang ada di afghanistan dan ditempat lain. Namun media mengarang berita, bahwa umat muslim melegalkan pembunuhan terhadap orang yang tidak berdosa. Hal ini jelas adalah fitnah yang dibuat-buat agar umat muslim dibenci dunia.

Aku sendiri setuju bahwa banyak organisasi muslim, mengutuk kejadian-kejadian di afghanistan, Irak, dll. Kejadian 11 September pula yang membunuh ribuan orang saya setuju perbuatan demikian dikutuk. Namun saya tidak tau siapa yang melakukan hal tersebut. Aku tidak mengatakan muslim yang melakukannya, namun media yang bilang begitu, yang tak ada buktinya. Tapi siapapun yang melakukannya aku mengkutuknya. Jika anda mau mencari berbagai sumber, ada banyak dokumenter di internet yang menunjukkan bahwa itu ulah pemerintah AS. George bush yang melakukannya. Namun sekali lagi aku tidak tau siapa yang melakukannya. Ada banyak nyawa tak bersalah menjadi korban pada waktu itu, termasuk muslim.

Pengeboman kereta di London, pengeboman kereta di Bombai, itu harus di kutuk. Namun aku juga mengkutuk ribuan orang yang bunuh di Afghanistan, mereka dibunuh dengan misil dan bom. Di Palestina, mereka melawan dengan batu, dan media (mereka) menyebut kami teroris. Amerika mengirim bom, roket, bom cluster. Untuk apa? operasi tersembunyi. Apa yang telah banyak aku temukan, adalah media yang menggambarkan bahwa muslim melakukan tersebut.

Ada domba hitam di dalam komunitas (Islam), ada domba hitam disetiap komunitas. Di India, seberapa sering media berbicara Maoist (partai komunis) yang membunuh banyak polisi? mereka adalah pembunuh terbesar di India, indentitas mereka adalah hindu. Adakah yang menyebut mereka "teroris hindu"? Di Inggris ada IRA (Irish Republican Army), mereka katholik. Adakah yang menyebut mereka "teroris katholik"?

Bahkan, bagiku George Bush adalah Bosnya teroris, penjahat berkerah putih. Dia yang meladangi dikirimnya jet-jet tempur ke Afghanistan, ke Irak, Dan ke bagai negara yang pasti menewaskan banyak nyawa tak bersalah.

Tidak ada agama yang membolehkan membunuh. Semua Agama.

Minggu, 31 Mei 2015

Di Bawah Umur Udah Merokok, Mau Jadi Apa Bangsa Ini?

with 0 Comment
Kalau dulu Indonesia di jajah oleh negeri kincir angin, belanda, dan sekarang Indonesia di jajah negerinya sendiri. Alasannya simpel, karena Indonesia masih belum bisa menjajah negara lain. Hehe

Ngomongin tentang bangsa ini, sebenarnya banyak banget yang masih rumit. Mulai dari pendidikan, percaturan politik, ekonomi negeri, dan lain-lain. Namun bertepatan dengan Hari Tanpa Rokok 31 mei 2015, sekarang saya ingin sedikit membahas tentang merokok yang entah bagaimana serta penerapan peraturan dan regulasinya terhadap anak-anak dibawah umur yang sudah kecanduan merokok.



Sebenarnya pemerintah punya peran penting terkait menyelamatkan karakter anak bangsa agar tidak terjerumus ke karakter belum waktunya. Terkait dengan merokok, sebenarnya Pemerintah sudah memiliki peraturan. Namun entah saya kurang paham jelasnya, yang jelas anak-anak di bawah umur masih banyak ku lihat merokok. Baik ketika aku melihatnya mereka di jalan, di lingkungan mereka, dan yang lebih miris lagi ketika aku melihat mereka merokok sedang mereka masih memakai atribut sekolah. Mau jadi apa bangsa ini?

Masih banyak ku temukan di kampungku sendiri anak-anak di bawah umur yang merokok dengan bergaya ala orang dewasa. Ada yang ketika mereka berangkat ngaji, pulang dari ngaji, ada pula yang lagi nongkrong. Terkadang aku melihatnya mereka merokok sedang disamping mereka ada beberapa orang tua yang sepertinya tidak mempermasalahkan perilaku anak-anak sebelah mereka. Sepertinya aku merasa lingkungan tempat aku besar itu masih kurang kesadarannya bahwa sikap mereka yang tidak melarang anak-anak disekitar mereka yang merokok itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan bangsa ini. Atau setidaknya bagi perkembangan desa mereka sendiri termasuk aku. Atau mereka belum tau betul bahaya rokok itu seperti apa, terlebih bagi anak-anak.

Beberapa referensi termasuk dari situs KPA, dalam penelitian di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2004 menunjukkan data sebagai berikut :

Remaja mulai merokok umur 7 – 12 tahun sebanyak 20,84 % untuk laki-laki dan 4, 17 % untuk perempuan.

Umur 13-15 tahun laki-laki sebanyak 12,50 % dan bagi perempuan sebanyak 8,33 %.

Umur 16 – 18 tahun laki-laki sebanyak 47,92 % dan bagi anak perempuan sebanyak 6,25 %.

Lantas, bagaimana sekarang ? wallahu a'lam. Yang jelas aku rasa sudah waktunya pemerintah mengambil sikap terhadap kejadian ini. Dan yang lebih mengambil peran penting adalah lingkungan. Karena jujur saja, saya sendiri terkadang masih menemukan teman sebayaku yang perokok menawarkan rokok terhadap anak-anak di bawah umur di sekitar mereka. Aku yang jelas hanya bisa melarang secara verbal, tak bisa lebih.

Perang keluarga dan lingkungan sangat penting dalam hal ini. Aku rasa, iklan di televisi tidak banyak berpengaruh terhadap sikap anak-anak yang ingin merokok itu. Kenapa ? Karena faktor utamanya adalah lingkungan dan pergaulan. Meskipun di rumah orangtuanya tidak merokok tapi anak-anak sebayanya sudah bisa merokok, pasti dia akan mencoba, entah dari keinginannya sendiri ataupun ajakan temannya. Seandainya sebaliknya, tentu anak akan berfikir, "orangtuaku saja merokok, mengapa aku tak boleh?"

Saya sendiri dulu merokok jelas kelas 2 MI. Pada waktu itu hal itu masih sembunyi-sembunyi. Saya masih ingat penyebab awal aku merokok, adalah lingkungan. Teman-teman sebayaku pada waktu ada beberapa yang sudah merokok, terkadang sama senior ada yang nawarin rokok. Namun sejak aku di vonis kena penyakit paru-paru basah, aku mulai mengurangi merokokku. Hingga sekarang saya sudah tidak merokok. Ya, walaupun keinginan merokok terkadang ada, namun saya juga sadar akan kesehatanku sendiri. Anak kecil mah gak tau apa-apa kalau gak edukasi dilingkungannya tidak mengajarinya. Bayangkan coba meskipun anak itu cerdas, pas sudah tua kepintarannya belum sempat disumbangsih udah mati. So, saya setuju kalau sebagian orang bilang bahwa merokok itu merusak bangsa.

Jumat, 15 Mei 2015

Komunisme Dan Islam Di Indonesia

with 0 Comment
Hidup ibarat berkelana, mencari nilai dari kehidupan. Globalisasi seakan menjadi daging dalam pikiran dewasa ini. Seseorang dipaksa menjadi skrup-skrup disetiap sendi kehidupan, bergerak tanpa mempedulikan seruan keletihan yang tak kunjung diam. Kalau perlu suntikan tenaga untuk memaksa bergerak pada kejamnya globalisasi. Post-modernisme selalu berteriak mengingatkan kekejaman yang masih akan datang.


Sudah setengah abad lebih Indonesia memproklamasikan menjadi Negara berdaulat, Negara yang merdeka. Perjalanan bangsa ini sungguh menguras tenaga penuh keringat para pejuangnya. Pergerakan-pergerakan yang berada didalamnya, baik yang muncul dipermukaan dan yang dengan samar-samar melangkahkan kaki mencari kemerdekaan.

Komunisme dan Islam memang berbeda, keduanya bertentangan dalam hal kajian. Komunisme sebagai penalaran rasional dan objektif, dan Islam sebagai keimanan dan kepercayaan. Kebenaran diantara keduanya juga berbeda, agama bersifat absolut sedang komunisme merupakan ideologi bersifat relatif nan hipotesis.

Komunisme pada perjalanannya di dunia memang suatu gerakan revolusioner. Sebuah manifesto politik pada tahun 1848 yang dirangkai oleh dua orang filsuf barat ; Karl Marx dan Friedrich Engels. Sebuah ideologi yang memperjuangkan kelas dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian berubah menjadi alat perlawanan terhadap imperialism-kolonialisme.  Selain berkembang di dunia komunis juga berkembang pesat di Indonesia pada awal abad 20, yakni disaat pergerakan mulai bermunculan yang dipelopori oleh Budi Utomo sebagai sekolah rakyat.

Di Indonesia paham marxisme dibawa oleh seorang sosialis dari belanda bernama Henk Sneevliet. Karena jiwa berontaknya terhadap imperialis di belanda dia menjadi daftar buronan yang selanjutnya mengantarkannya ke Indonesia. Disinilah Sneevliet mulai menyusup mendoktrin orang Indonesia khususnya Sarekat Islam (SI). Lantas muncul pertanyaan, kenapa di Indonesia pada permulaan diterimanya paham komunis diterima oleh kebanyakan kaum muslim bahkan yang agamis, seperti Haji Misbach yang taat beragama dapat menerima komunis?

Komunis sebagai basis perlawanan, pembebasan, pemberontakan terhadap penindasan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan Islam dan Komunis yakni Marxisme sebagai landasan memiliki satu tujuan, yakni menghapus penindasan. Haji Misbach berpandangan bahwa nilai-nilai Islam berpihak pada kaum tertindas. Hal inilah yang mempertemukan Islam dan Marxisme dalam suatu visi. Misbach, menangkap Islam sebagai agama yang revolusioner yang dalam sejarah Nusantara telah menimbulkan pemberontakan-pemberontakan lokal yang bertema pembebasan. Meskipun pada perjalanannya lika liku perjuangan kaum komunis Indonesia tak sedikit mendapat hambatan, yang kemudian ada perpecahan dalam tubuh SI; SI merah dan SI putih. Bahkan Agus Salim selepas ditangkapnya Tjokroaminoto, melakukan pembersihan dari nilai-nilai komunisme.
Kalangan ulama-ulama banten juga menerima komunisme karena kekecewaan mereka pada kepemimpinan Tjokroaminoto. Banyak kalangan tokoh dan ulama Islam yang menerima komunis pada waktu itu, bahkan mereka bersama pendekar memainkan peranan penting dalam pemberontakan PKI pada 1926.

Tan Malaka juga mempertanyakan dalam pidatonya Kongres Komunis Internasional ke-empat pada tanggal 12 Nopember 1922, apakah komunis di Indonesia akan berpihak pada Pan-Islamisme ?
Pada awal berdirinya Komunis di Indonesia, sebagai mana dijelaskan di atas bahwa komunis bekerja sama dengan kaum muslim yang terikat dengan organisasi terbesar di Indonesia yaitu Sarekat Islam. Antara tahun 1912 dan 1916 Sarekat Islam memiliki lebih dari sejuta anggota, diperkirakan sebanyak tiga atau empat juta. Pergerakan mereka bisa dibilang sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner. Propaganda yang dilakukan kaum komunis ditubuh SI berbuah hasil. Sarekat Islam menggunakan slogan kaum komunis hanya dalam bentuk yang berbeda: “Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, Semua kekuasaan untuk kaum proletar!.”
Namun pada tahun 1921 sebuah perpecahan timbul karena kritik yang ceroboh terhadap kepemimpinan Sarekat Islam. Pemerintah melalui agen-agennya di Sarekat Islam mengeksploitasi perpecahan ini, dan juga mengeksploitasi keputusan Kongres Komunis Internasional Kedua: Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa kata mereka kepada para petani jelata? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan! Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir. Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan sangat baik.

Terlepas dari pemberontakan kaum komunis di negeri ini yang terpatahkan, juga kejadian Gerakan 30 September yang mengambing-hitamkan para komunis yang tergabung di PKI, komunis dan Islam pernah harmonis bahkan keduanya saling menyokong dalam kemerdekaan republik Indonesia.
“Masuklah kalian ke dalam Islam secara penuh (QS: al-Baqarah [2]: 208)”
Gus Dur berkata, kedamaian yang mempunyai makna bagi universalitas nilai.  Saya reinterpretasi bahwa kaum muslim harus selamat (islam) tidak hanya dalam akidah melainkan juga dalam kemakmuran, kesejahteraan, dan melawan terhadap penindasan.

Rabu, 29 Januari 2014

Perilaku Bullying Di Jejaring Sosial

with 0 Comment
Lantunan nyanyian burung-burung di pagi ini mulai terdengar ditelinga bersamaan dengan lantunan musik sholawatan dilaptop temanku. Musiknya pun membantu otakku bekerja lebih jernih. Dalam kamar yang ditemani seorang teman karibku yang sedang tidur disebelahku, saya membuka Facebook. Tak banyak yang berubah diberanda, hanya 3 pemberitahuan yang tidak begitu penting. Telusurpun mulai berjalan, hingga terlintas dalam benakku, kenapa di facebook sering terjadi perilaku intimidasi atau bullying, dimana hal ini sebenarnya sudah lama terjadi hanya saja saya baru merasa bahwa hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi, apalagi pelakunya kebanyakan anak muda yang mulai dewasa.

Anda bisa mencari dan menemukan perilaku-perilaku yang sifatnya bullying di jejaring sosial facebook atau beberapa jejaring sosial lainnya, kenapa hal ini harus terjadi ?

Sebelum memasuki masa reformasi, kebebasan berpendapat di tempat umum begitu sulit untuk didapatkan. Terlebih dulu fasilitas teknologi tidak seperti sekarang. Setelah memasuki era demokrasi dan pesatnya perkembangan teknologi, masyarakat Indonesia seperti mendapat angin segar untuk berpendapat secara bebas.

Sayangnya kebebasan berpendapat tersebut sering disalah gunakan oleh sekelompok orang. Sosial media yang seharusnya menjadi sarana positif untuk mengungkapkan pendapat dan curahan hati malah menjadi ajang untuk melakukan cyberbullying.

Di Indonesia sendiri, sudah banyak warga yang menjadi korban cyberbullying. Jika di Amerika atau di negara lain yang menjadi korban adalah para remaja, lain lagi kalau di Indonesia yang kebanyakan menjadi korban adalah tokoh masyarakat atau artis yang melakukan kesalahan. Namun juga banyak yang menjadi korban kalangan masyarakat sendiri bahkan orang yang tidak saling mengenal pun bisa saling menghina, mengintimidasi, dan lain-lain.

Sedang taukah anda bahwa bullying dapat berdampak buruk yang serius pada mental korban. Diantaranya :
• Rasa cemas, takut, gelisah, terancam, dan tertekan
• Mengurangi rasa pe-de
• Tidak mau bergaul, mengurung diri, dan tidak mau ke tempat dimana ia akan bertemu pelaku bullying
• Turunnya prestasi belajar, potensi diri, dan kreativitas
• Pesimis, patah semangat, dan putus asa
• Marah, malu, dan sedih
• Serba salah dan menyalahkan diri sendiri
• Munculnya keinginan yang berlebihan di luar kemampuan
• Timbul rasa sakit hati
• Tidak bisa berkonsentrasi dalam segala hal
• Menjadi pendiam dan pemurung

Salah satu masukan dari saya untuk menghindari bullying adalah memahami ayat berikut :

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (Luqman: 22)

Sekian tulisan pagi ini, semoga memberikan manfaat kepada sahabat pembaca.