Revolusi memakan anaknya sendiri. Tragedi 1998 sudah cukup menjadi saksi
bahwa revolusi itu kejam. Namun, tidak tegas, kompromistis, atau
“banci” terkadang disematkan pada orang-orang yang modetar. Padahal
orang moderat biasanya yang mendekati kebenaran. Maskipun serasa hambar
tentang orang-orang yang yakin kepada benarnya ucapan bahwa “sebaik-baik
perkara adalah yang tengah-tengah.”
Apalagi di suatu masa yang sedang membutuhkan kobaran api semangat,
hentakan kaki, atau gemertak geraham, sikap moderat sering dianggap
banci. “banci” adalah sesuatu yang menjijikkan, terutama bagi mereka
yang menyenangi kejantanan. Atau sering pula dianggap keterlambatan kaum
intelektual yang selalu cukup untuk dihina oleh mereka para pecinta
“aksi”.
Kejadian seperti ini mungkin pernah terjadi di negeri Indonesia ini di
masa Soeharto, mereka yang lebih bersikap diam akan dicemooh dan mereka
yang memprotes akan dianggap pahlawan. Atau sepertinya banyak kisah hero
di bumi ini yang tak kalah seru kisahnya.
Seorang revolusioner mungkin adalah seorang yang harus memihak – ada
kawan ada lawan. Revolusi adalah permusuhan. Ia menghendaki sikap
kekerasan sikap, karena dia bisa jadi harus bergulat. Dia harus
menyempitkan pandangan, karena dia bisa jadi harus membidik. Di
tahap-tahap pertama, revolusi selalu akan menggertak, mengancam,
membasmi, mencurigai. Tak heran kalau revolusi itu mulia meski
mengandung teror.
Indonesia yang sudah menjadi negeri yang berdaulat, tidakkah kita
kembali kepada sikap moderat ? moderat dalam sikap berpikir. Pada saat
itu kita surut sebentar dari pendirian yang tegas, jelas, dan tidak
ditengah-tengah. Namun jika ada yang pilih setelah berpikir maka itu
adalah pilihan yang dasar, keberanian untuk berpikir bebas. Bukan
sekedar berani menghadapi pikiran-pikiran lawan yang kita anggap bebal,
tapi berani menghadapi kesimpulan kawan sepaham dan diri kita sendiri,
yang biasanya kita anggap pintar.
Revolusi adalah mencapai harapan, moderat adalah berpikir bebas, dan extrem adalah penghianatan pada moderat dan revolusi.
Ahh, revolusi toh sudah sering dikhianati.
NB : Tulisan ini terinspirasi oleh tulisannya Goenawan Muhammad dalam
bukunya Catatan Pinggir (maaf lupa halaman dan judulnya sudah lupa)
Tulisan Indah Itu Hanya Peristiwa, Cara Kamu Menulislah Yang Hebat.
0 komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan komentar yang sopan dan baik.